Sumber gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrYpiAVdvlLBn7jWMpyDhvhHXXVvtUm27vm-fjtJNmFOtQBbeDkdasZSMMx9fsuJN91bQax8doOvpK7RRygmkCYeiQYlo1OIjfB6PObFFJlYRRu4SsV_NmlWx6YrIDnrctFyYgoYn8K78/s1600/292763_397766016961102_1772393256_n.jpg
Kita sering mendengar istilah memantaskan diri, terutama dalam konteks perjodohan. Tapi sudahkan kita tahu apa yang ada di balik kata memantaskan diri? Memantaskan diri berarti kita membuat diri kita pantas mendapat jodoh. Ketika kita memiliki target jodoh tertentu, yang mana jika kita memiliki kriteria jodoh yang kita inginkan, maka kita harus memantaskan diri agar sesuai dengan kriteria kita.
Padahal jodoh tidak selamanya
memiliki rumus itu, tidak selamanya sesuai dengan rumus yang kita terapkan
dalam kehidupan manusia. Banyak yang memiliki keyakinan ketika kita ingin
memiliki jodoh dengan spesifikasi tertentu, maka kita harus memantaskan diri untuk
spesifikasi yang kita inginkan dari jodoh itu.
Akhirnya ketika dia tidak
menemukan jodoh dengan spesifikasinya, maka dia tidak mau menikah. Ketika tidak
ketemu jodoh yang sesuai spesifikasi, maka dia bisa jadi menggerutu dan
menyalahkan Allah, karena merasa dirinya sudah sesuai spesifikasi, maka harus
mendapatkan apa yang sudah menjadi haknya. Dia menganggap ketika sudah memenuhi
spesifikasi, maka Allah wajib memberikan apa yang menjadi impiannya. Dia
menggugat Allah.
Hal tersebut yang membuat
memantaskan diri bukan untuk Allah itu salah, karena semua yang ada di dunia
ini merupakan ciptaan-Nya. hidup, mati, jodoh, rezeki semua sudah ditentukan
Allah dalam qadha' Nya. Untuk itu marilah kita memantaskan diri (mengubah diri
menjadi lebih baik) untuk Allah agar hidup kita senantiasa ridha atas qadha'
Nya.
Rasulullah bersabda,"Siapa
mendekat kepada KU (Allah) sejengkal, maka aku akan mendekatinya satu hasta,
Siapa yang mendekat kepada KU (Allah) satu hasta, maka aku akan mendekat
kepadanya satu depa. Dan siapa yang mendekat kepada KU (Allah) dengan berjalan
kaki, maka aku akan mendekatinya dengan berlari-lari kecil".(HR.Muslim)
“Wanita-wanita yang keji adalah
untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita
yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik
dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS
an-Nuur [24]: 26)
Salah satu ujian iman tertinggi
adalah ketika diri tak menyadari posisi tertinggi hati, tak lagi Allah yang
menghuni.Terkelabui oleh cinta yang katanya sejati, padahal hakikat kehadirannya
hanya untuk menguji. Bersibuk memantaskan diri karena jodoh, bukan lagi
karena Allah. Terbakar semangat menikah, tanpa menyadari niat berbelok, tak
lagi untuk ibadah. Mulai gelisah menapaki pencarian, mengabaikan penguatan
ketaatan dalam kesendirian.
Padahal kita ketahui, episode
‘sendiri’ itu Allah berikan sebagai sebuah kesempatan untuk mengeksplorasi
kehidupan. Episode ‘sendiri’ juga merupakan kesempatan untuk memupuk ketaatan,
sebagai bekal persiapan pulang. Ia bukanlah sebuah kutukan, sehingga dianggap
pantas sebagai cibiran. Tenang saja semua sudah diatur. Diatur dengan
sebaik-baiknya, dengan setepat-tepatnya.
Tak perlu gelisah, khawatir jadi
salah arah. Tak perlu buru-buru, khawatir jalan tempuhnya keliru. Jangan terbawa
arus, meski di luar sana banyak sekali ‘kompor’ yang nyaris membuat hangus.
Santailah, lagipula mereka di luar sana belum tentu ikut bertanggungjawab
apabila diri salah niat. Kuatkan hati kita, sambil berbenah diri.
Tapi hati-hati. Jangan bersibuk
memantaskan diri karena jodoh, bukan lagi karena Allah. Sebab jika tujuannya
demikian, sesungguhnya kita telah membatasi karunia Allah tanpa sadar. Jika
Allah ridha, karunia yang diberikan-Nya bisa jauh lebih luas dari itu.
Berbenahlah dengan ikhlas, demi menggapai kemuliaan dan kehidupan terbaik,
dunia serta akhirat. Ingatlah, kita akan diuji oleh sesuatu yang benar-benar
kita cintai. Bisa jadi sebab Allah cemburu, hamba yang pada mulanya begitu
mencintai-Nya, sedang lupa dan lalai tanpa sadar.
Maka doaku, doamu, dan doa
siapapun yang setuju. Berharap diri tak keliru menyandarkan harapan, pada yang
tak seharusnya. Berharap hati tak dilabuhkan, pada tempat yang tak semestinya. Berharap
Allah menggenggam segala rasa, yang tak perlu tercurah bila belum saatnya. Andai
pun kelak dipertemukan, berharap kecintaan kepada pasangan hidup, tak lebih
tinggi dari kecintaan kepada-Nya. Sebab jika Allah tidak ridha, tentu tak sulit
bagi-Nya mengambil kembali, apapun yang kita rasa sudah dimiliki. Maka, undang
keridhaan-Nya, dengan tetap menempatkan Allah di posisi tertinggi hati. Jangan
keliru atas hakikat memantaskan diri.
(Dikutip dari berbagai Sumber: http://menikah-islami.blogspot.com/2014/11/jangan-keliru-memantaskan-diri.html
https://m.facebook.com/notes/syarif-baraja/apakah-islam-mengajarkan-agar-memantaskan-diri-untuk-berjodoh/510612869044146
dan lain sebagainya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar