Minggu, 08 Maret 2015

Pantaskan Diri untuk Allah, Bukan untuk Jodoh

Sumber gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrYpiAVdvlLBn7jWMpyDhvhHXXVvtUm27vm-fjtJNmFOtQBbeDkdasZSMMx9fsuJN91bQax8doOvpK7RRygmkCYeiQYlo1OIjfB6PObFFJlYRRu4SsV_NmlWx6YrIDnrctFyYgoYn8K78/s1600/292763_397766016961102_1772393256_n.jpg

Kita sering mendengar istilah memantaskan diri, terutama dalam konteks perjodohan. Tapi sudahkan kita tahu apa yang ada di balik kata memantaskan diri? Memantaskan diri berarti kita membuat diri kita pantas mendapat jodoh. Ketika kita memiliki target jodoh tertentu, yang mana jika kita memiliki kriteria jodoh yang kita inginkan, maka kita harus memantaskan diri agar sesuai dengan kriteria kita.

Padahal jodoh tidak selamanya memiliki rumus itu, tidak selamanya sesuai dengan rumus yang kita terapkan dalam kehidupan manusia. Banyak yang memiliki keyakinan ketika kita ingin memiliki jodoh dengan spesifikasi tertentu, maka kita harus memantaskan diri untuk spesifikasi yang kita inginkan dari jodoh itu.
  

Ada yang menginginkan jodoh dengan kriteria tinggi, maka dia harus menaikkan spesifikasinya, agar nanti ketika sudah pantas, dia akan mendapatkan jodoh yang dia inginkan dengan spesifikasi yang cocok. Padahal jodoh tidak selamanya seperti itu. Tidak berdasarkan kepantasan dan kepatutan tertentu. Jodoh adalah pilihan Allah.

Akhirnya ketika dia tidak menemukan jodoh dengan spesifikasinya, maka dia tidak mau menikah. Ketika tidak ketemu jodoh yang sesuai spesifikasi, maka dia bisa jadi menggerutu dan menyalahkan Allah, karena merasa dirinya sudah sesuai spesifikasi, maka harus mendapatkan apa yang sudah menjadi haknya. Dia menganggap ketika sudah memenuhi spesifikasi, maka Allah wajib memberikan apa yang menjadi impiannya. Dia menggugat Allah.

Hal tersebut yang membuat memantaskan diri bukan untuk Allah itu salah, karena semua yang ada di dunia ini merupakan ciptaan-Nya. hidup, mati, jodoh, rezeki semua sudah ditentukan Allah dalam qadha' Nya. Untuk itu marilah kita memantaskan diri (mengubah diri menjadi lebih baik) untuk Allah agar hidup kita senantiasa ridha atas qadha' Nya. 

Rasulullah bersabda,"Siapa mendekat kepada KU (Allah) sejengkal, maka aku akan mendekatinya satu hasta, Siapa yang mendekat kepada KU (Allah) satu hasta, maka aku akan mendekat kepadanya satu depa. Dan siapa yang mendekat kepada KU (Allah) dengan berjalan kaki, maka aku akan mendekatinya dengan berlari-lari kecil".(HR.Muslim)

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS an-Nuur [24]: 26)

Salah satu ujian iman tertinggi adalah ketika diri tak menyadari posisi tertinggi hati, tak lagi Allah yang menghuni.Terkelabui oleh cinta yang katanya sejati, padahal hakikat kehadirannya hanya untuk menguji. Bersibuk memantaskan diri karena jodoh, bukan lagi karena Allah. Terbakar semangat menikah, tanpa menyadari niat berbelok, tak lagi untuk ibadah. Mulai gelisah menapaki pencarian, mengabaikan penguatan ketaatan dalam kesendirian.

Padahal kita ketahui, episode ‘sendiri’ itu Allah berikan sebagai sebuah kesempatan untuk mengeksplorasi kehidupan. Episode ‘sendiri’ juga merupakan kesempatan untuk memupuk ketaatan, sebagai bekal persiapan pulang. Ia bukanlah sebuah kutukan, sehingga dianggap pantas sebagai cibiran. Tenang saja semua sudah diatur. Diatur dengan sebaik-baiknya, dengan setepat-tepatnya.

Tak perlu gelisah, khawatir jadi salah arah. Tak perlu buru-buru, khawatir jalan tempuhnya keliru. Jangan terbawa arus, meski di luar sana banyak sekali ‘kompor’ yang nyaris membuat hangus. Santailah, lagipula mereka di luar sana belum tentu ikut bertanggungjawab apabila diri salah niat. Kuatkan hati kita, sambil berbenah diri.

Tapi hati-hati. Jangan bersibuk memantaskan diri karena jodoh, bukan lagi karena Allah. Sebab jika tujuannya demikian, sesungguhnya kita telah membatasi karunia Allah tanpa sadar. Jika Allah ridha, karunia yang diberikan-Nya bisa jauh lebih luas dari itu. Berbenahlah dengan ikhlas, demi menggapai kemuliaan dan kehidupan terbaik, dunia serta akhirat. Ingatlah, kita akan diuji oleh sesuatu yang benar-benar kita cintai. Bisa jadi sebab Allah cemburu, hamba yang pada mulanya begitu mencintai-Nya, sedang lupa dan lalai tanpa sadar.

Maka doaku, doamu, dan doa siapapun yang setuju. Berharap diri tak keliru menyandarkan harapan, pada yang tak seharusnya. Berharap hati tak dilabuhkan, pada tempat yang tak semestinya. Berharap Allah menggenggam segala rasa, yang tak perlu tercurah bila belum saatnya. Andai pun kelak dipertemukan, berharap kecintaan kepada pasangan hidup, tak lebih tinggi dari kecintaan kepada-Nya. Sebab jika Allah tidak ridha, tentu tak sulit bagi-Nya mengambil kembali, apapun yang kita rasa sudah dimiliki. Maka, undang keridhaan-Nya, dengan tetap menempatkan Allah di posisi tertinggi hati. Jangan keliru atas hakikat memantaskan diri.


@hendraahong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lingkungan dalam Pemasaran Islam

Sumber      Dalam dunia bisnis, lingkungan pemasaran memiliki peran penting dalam menentukan keberhasilan suatu strategi pemasaran. Dalam p...